Langkah-langkah Menetapkan Harga

Langkah-langkah Menetapkan Harga

Banyak sisi yang harus diamati oleh menejemen dalam menentukan harga barang hasil produknya, agar barang yang ditawarkan tidak menemui kegagalan dipasaran. Di sinilah barangkali tempat pentingnya riset pemasaran harus dilakukan oleh perusahaan. Tetapi pada umumnya menejemen biasanya menggunakan prosedur atau langkah-langkah menetapkan harga di bawah ini, bila tujuan penetapan harga sudah ditentukan.

Langkah pertama melakukan estimasi permintaan.

Yaitu memperkirakan permintaan terhadap barang yang ditawarkan secara keseluruhan. Untuk produk baru hal ini lebih sulit dilakukan daripada barang lama yang sudah ada dipasaran. Hal yang dapat dilakukan dalam mengestimasi permintaan terhadap barang ini adalah dengan cara menentukan harga yang diharapkan dapat diterima oleh konsumen. Misalnya membuat ancar-ancar harga, dari harga Rp. 1000 – Rp. 1500 untuk menguji sampai titik harga ke berapa barang itu dapat diterima secara luas oleh konsumen.

Di samping itu, estimasi dapat juga dilakukan dengan memperkirakan volume penjualan pada berbagai tingkat harga. Cara ini dapatlah kita katakan sebagai kelanjutan cara di atas tadi. Hal ini kemudian menyangkut pula masalah elastisitas permintaan. Barang yang mempunyai permintaan elastis, biasanya akan diberikan harga lebih rendah daripada barang yang mempunyai permintaan inelastis.

Langkah kedua berupaya mengetahui reaksi para pesaing

Kebijakan harga sangat terpengaruh dengan kondisi persaingan yang ada. Karena itu menejemen ataupun penjual terlebih dahulu harus mengetahui keadaan persaingan tersebut dan sumber-sumber yang menyebabkannya. Sumber-sumber persaingan ini dapat berasal dari:
  1. Barang sejenis yang dihasilkan atau ditawarkan oleh perusahaan lain
  2. Barang subtitusi atau barang yang digunakan untuk menggantikan fungsi barang utama yang sudah ada
  3. Barang-barang lainnya yang dibuat oleh perusahaan lain
Langkah ketiga menentukan menentukan market share yang diharapkan

Diterima atau tidaknya harga barang oleh konsumen dapat memengaruhi market share. Pada umumnya terutama perusahaan besar ingin memperluas market share-nya. Hal ini dapat diharapkan dari kebijakan harga yang ditetapkan dan juga dapat diperluas dengan mengadakan periklanan. Market share yang diharapkan ini akan dipengaruhi oleh kapasitas produksi, biaya ekspansi, dan mudahnya memasuki persaingan.

Langkah keempat memilih strategi harga untuk mencapat target pasar

Saya minta maaf, untuk bagian ini, nanti akan saya bahas pada postingan berikutnya, supaya artikel ini tidak terlalu panjang dan melelahkan bagi yang membacanya. Untuk itu mari kita langsung saja kelangkah yang terakhir atau kelima.

Langkah kelima mempertimbangkan politik pemasaran

Langkah terakhir ini juga sangat penting. Tidak bisa perusahaan menetapkan harga secara sembarangan tanpa melihat dan mempertimbangkan politik pemasaran yang diterapkan oleh perusahaan, baik pada barang, sistem distribusi, maupun pada program promosinya. Dalam menentukan harga perusahaan harus mempertimbangkan harga barang lain yang dijualnya. 

Demikian halnya dengan distribusi, perusahaan harus memperhatikan pula ada atau tidaknya penyalur yang juga menerima sebagian dari harga jual. Kemudian apakah tanggungjawah promosi harus dilimpahkan kepada pihak penyalur (distributor) atau tidak. Apabila kemudian distributor yang melaksanakan promosi ini maka otomati marjin yang akan diterima oleh produsen menjadi lebih tinggi. (Sumber: Azas-azas marketing Basu Swastha)
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/31/2016

Faktor Apa Saja Yang Mempengaruhi Konsumsi?

Tentu kalian tahu bahwa setiap orang dalam membeli barang konsumsi ada alasan (motif) tersendiri yang mendorongnya. Motif pembelian yang dilakukan konsumen ini beragam dan jenis barang yang dipenuhi pun berbagai macam pula. Banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi ini, di antaranya adalah penghasilan, geografis tempat tinggal, dan pendidikan.

Secara singkat saya akan menguraikan ketiga faktor tadi yang mempengaruhi konsumsi.

1. Penghasilan atau tingkat kekayaan

Penghasilan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pola pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Orang kaya, orang setengah kaya, dan orang miskin walaupun memiliki kebutuhan yang sama akan barang dan jasa, tetapi dalam pemenuhannya berbeda pada jumlah dan kualitas barang yang dikonsumsi. Di samping itu orang kaya dapat memenuhi kebutuhan yang lebih banyak jenisnya, yang tidak dapat dipenuhi oleh level di bawahnya. Seringkali faktor tingkat penghasilan ini mendorong pola konsumsi yang lain, yaitu konsumsi berdasarkan prestise atau status sosial. Orang kaya banyak melakukan konsumsi untuk menjaga dan menampakkan status sosialnya yang tinggi.

2. Geografis

Pembelian atau konsumsi juga dipengaruhi oleh faktor geografis atau daerah tempat tinggal di mana konsumen berada. Hal ini tentu bisa kalian lihat dengan jelas perbedaan yang dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di daerah pantai yang panas dengan masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yang dingin. Misalnya dalam memenuhi kebutuhan akan pakaian saja, masyarakat yang tinggal di pantai memerlukan pakain yang berbahan tipis, sedangkan masyarakat yang tinggal di pegunungan membeli pakaian yang berbahan tebal. Tentu saja perbedaan ini bukan hanya dalam hal berpakaian saja, tetapi juga pada kebutuhan-kebutuhan yang lainnya, termasuk pangan dan papan (rumah).

3. Pendidikan

Di dalam Islam pada waktu membahas keutamaan ilmu ada dikatakan, "Orang-orang yang berilmu tidak sama dengan orang-orang yang tidak berilmu". Perbedaan ini berlaku pula pada perbedaan cara dan jenis konsumsi. Contoh sederhananya seperti ini: anak yang duduk di bangku SMU membutuhkan pakaian seragam dan buku pelajaran yang berbeda dengan anak yang masih ada di SMP. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi cenderung lebih banyak menikmati media teknologi, seperti internet dan lainnya dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pendidikan.

Di samping ketiga faktor tadi, adalagi faktor yang sangat mendasar yang lupa saya sebutkan yaitu faktor selera. Benar, tentu saja selera seringkali mempengaruhi setiap orang dalam melakukan konsumsi. Rasa suka dan minat seseorang terhadap terhadap barang dan jasa mendorong setiap perusahaan baik produksi maupun penjual untuk meningkatkan kualitas dan memberikan kemasan yang menarik terhadap barang dan jasa yang ditawarkan.

Menurut kalian adakah pengaruh agama dan adat istiadat terhadap konsumsi?

Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/31/2016

Konsumsi Memakai Menikmati

Konsumsi Memakai Menikmati
Pesawat tempur su-35 satu contoh konsumsi yang dilakukan pemerintah

Judulnya mungkin sedikit mengada-ada atau mungkin dianggap berlebihan, tiga kata dengan pengertian yang sama dirangkai dalam satu kalimat. Tapi judul ini (konsumsi memakai menikmati) memang sengaja saya pilih dengan maksud supaya pembahasan yang akan saya sampaikan mudah untuk diingat dan dipahami, mengingat materi ini saya tujukan untuk anak usia sekolah menengah pertama.

Konsumsi


Seorang ibu pergi ke toko pakaian membeli baju baru untuk anak gadisnya. Kemudian si ibu pulang dan memberikan baju itu kepada anaknya. Remaja putri itu begitu senang lalu mengenakan baju tersebut. Si Aunul lain lagi, dia begitu menikmati bakso pemberian ibunya.

Dari contoh di atas, maka kata-kata seperti membeli, memakai atau mengenakan, makan dan menikmati adalah kata lain dari kata konsumsi. Yaitu mengkonsumsi sesuatu untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan. Masih dari contoh tadi, sifat dari barang yang dikonsumsi tersebut dibedakan atas barang langsung habis, makanan misalnya dan barang yang tidak langsung habis bila digunakan tapi nilainya lama kelamaan akan berkurang dan habis jika sering digunakan, seperti pakaian tadi.

Jadi, apakah yang dimaksud dengan konsumsi?

Konsumsi adalah kegiatan memakai, menggunakan, menikmati, menghabiskan dan mengurangi nilai barang atau jasa guna memenuhi dan memuaskan kebutuhan.

Orang yang melakukan konsumsi disebut konsumen dan orang yang suka berbelanja barang konsumsi disebut konsumtif. Ingat konsumtif itu adalah perilaku yang tidak baik karena menandakan pelakunya sebagai orang yang boros. Untuk mencegah sifat boros ini, buatlah skala prioritas artinya urutkan pembelian barang dan jasa sesuai dengan tingkat kepentingaannya. Beli barang sesuai dengan kebutuhan dan jangan membeli barang hanya karena keinginan.

Siapa saja melakukan konsumsi?

Tentu saja konsumsi dapat dilakukan oleh siapa saja,  baik oleh orang per-orang, rumah tangga, badan atau perusahaan maupun pemerintah. Jenis barang yang dikonsumsi pun berbeda pula karena berbeda kebutuhan. misalnya, konsumsi yang dilakukan oleh perorangan yaitu membeli barang keperluan pribadi, Rumah tangga membutuhkan bahan untuk makan siang, perusahaan membutuhkan bahan baku dan pemerintah konsumsi yang dilakukan dengan membeli pesawat tempur SU-35 untuk menjaga kedaulatan negara.


Tentu dengan membaca artikel di atas tentunya anda sudah punya kesimpulan yang tepat tentang konsumsi ini, bukan?

Baiklah cukup dulu pembahasan kita mengenai konsumsi ini. Lain kali mungkin saya akan menambahkan pembahasan ini pada artikel yang berbeda. Terima kasih untuk keluangan waktunya mengunjungi dan membaca artikel di blog ini. Bye…
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/30/2016

Membangun Perekonomian Indonesia

Membangun Perekonomian Indonesia - Indonesia berpeluang menjadi pemimpin kawasan Asia melalui konsep local economic principle (prinsip ekonomi lokal). Konsep ini berupa pengembangan sektor Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM). Kedua sektor ekonomi menginspirasi Indonesia sejak tahun 1660 ketika Robert Norn menerapkan prinsip koperasi. Kenyataannya, prinsip koperasi sesuai dengan kebijakan lokal Indonesia. Negara ini menemukan konsep ekonomi yang bervariasi sebagai akibat penjajahan dari negara asing.

Sudah sewajarnya Indonesia menganut sistem koperasi sebagai alat untuk mengukur dan membangun perekonomian nasional. Konsep koperasi juga memberikan hak suara kepada setiap anggotanya dalam rapat. Prinsip ini jelas berbeda dengan nilai liberal yang dianut oleh World Trade Organization (WTO). Pada organisasi ini negara-negara superpower menentukan nasib perekonomian dunia secara tertutup dan politis. Akibatnya, negara-negara berkembang seolah hanya sebagai penonton dalam perdagangan dunia. Mereka juga tidak memiliki hak untuk menentukan nasib perekonomiannya pada masa mendatang.

Indonesia seharusnya mulai mengembangkan koperasi seperti sebelum kemerdekaan. Perekonomian nasional perlu dipetakan dengan landasan asas kekeluargaan yang termuat dalam koperasi. Meskipun hanya bersifat mikro, koperasi memiliki tingkat stabilitas yang tinggi. Resiko dan keuntungan akan dirasakan oleh seluruh anggota koperasi. Oleh karena itu, pemerintah sewajarnya memperkenalkan kembali konsep ekonomi Indonesia klasik yang diterima dan diterapkan di negara ini. [Silahkan baca: Sejarah Koperasi Indonesia]

Pembangunan perekonomian Indonesia harus dilandasi kerja sama ekonomi dari masyarakat ekonomi bawah yang berperan penting dalam ekonomi mikro. Konsep tersebut sudah terbukti di tingkat dunia. Hal ini tidak bisa dimungkiri karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat stabilitas ekonomi cukup baik di dunia. Ada banyak kasus krisis dunia yang bisa menggoyahkan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, kesadaran menghidupkan koperasi dan UKM bisa dijadikan alasan penting untuk mengembalikan dan merevitalisasi ekonomi Indonesia. [Baca: Sistem Demokrasi Ekonomi]

Artikel yang sedang anda baca ini, dengan judul Membangun Perekonomian Indonesia, bersumber dari Buku PR PG IPS terpadu. Kelas VIII Semester 2, terbitan Intan Pariwara. 2010.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/30/2016

Reaksi Konsumen Terhadap Harga

Harga seringkali dijadikan patokan bagi konsumen untuk menentukan kualitas sebuah barang. Semakin tinggi harganya maka semakin baik dan bermutu barang tersebut. Begitu pula sebaliknya, semakin murah barang tersebut maka konsumen lebih cenderung menganggap kualitas barang tersebut rendah. Tentu saja kecenderungan ini tidak berlaku untuk semua barang, tapi lebih kepada harga-harga barang tahan lama, elektronik umpamanya.

Inilah reaksi yang sering ditunjukkan konsumen jika dihadapkan pada pilihan dua atau lebih jenis barang yang memiliki fungsi yang sama. Acuan pertama yang dijadikan patokan adalah harga, dan yang lebih mahal-lah yang kerap kali menjadi pilihan, karena anggapan harga tinggi sama dengan kualitas tinggi.

Di samping sebagai penentu kualitas, Harga juga biasanya dijadikan sebagai penentu nilai barang.
Mungkin imej ini lebih banyak ditujukan untuk gengsi (status sosial) seseorang dalam memakai barang produksi. Orang-orang kaya lebih suka membeli barang yang berkelas dengan harga yang sangat tinggi untuk menunjukkan strata sosialnya ke publik. Di sinilah muncul anggapan bahwa harga barang yang tinggi adalah superior dan barang yang memiliki harga rendah dianggap inferior (rendah tingkatannya).

Pada kenyataanya, harga yang sesuai dengan keinginan konsumen belum tentu sama untuk jangka waktu yang lama. Kadang-kadang konsumen lebih menonjolkan kesan daripada harga itu sendiri. Barang sejenis yang berharga murah justeru dapat tidak dibeli oleh konsumen.

Baca pula: Tujuan Penetapan Harga!

Kesimpulan


Kualitas dan nilai suatu barang tergantung pada tingkat harga. Reaksi yang ditunjukkan oleh konsumen dalam membeli suatu produk banyak dipengaruhi oleh harga barang tersebut. Semakin tinggi harga barang semakin bagus mutu dan nilai barang tersebut. Ketentuan itu tidak berlaku untuk barang-barang yang bersifat homogen, seperti bensin.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/29/2016

Kebijakan Jepang Pada Bidang Sosial

Kebijakan Jepang Pada Bidang Sosial
Kebijakan Jepang yang cukup penting pada bidang sosial adalah pembagian kelas masyarakat seperti jaman Belanda. Tapi yang membedakan keduanya adalah Belanda menempatkan warga Cina yang ada di Indonesia setingkat lebih tinggi dari warga pribumi, sekalipun keluarga kerajaan. Sedangkan Jepang mengganggap kelas Cina lebih rendah, kelas warga masyarakat yang paling dicurigai. Ini tidak mengherankan karena Cina merupakan musuh tradisional Jepang.

Makanya pemerintah Jepang dalam lingkup kekuasaanya di Indonesia membagi masyarakat ini menjadi dua, yakni saudara tua, dalam hal ini warga Jepang, dan saudara muda yakni masyarakat Indonesia. Pembagian kelas sosial ini sejalan dengan propaganda yang dilancarkan oleh Jepang, yaitu Gerakan 3A. Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, dan Nippon Pelindung Asia. Tapi fakta berbicara lain, ternyata propaganda ini hanya ditujukan untuk kepentingan dan keuntungan pihak Jepang sendiri.

Ada yang penting kita garis bawahi bahwa apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Balatentara Jepang ujung-ujungnya selalu demi kepentingan peperangan dalam menghadapi tentara Sekutu, tidak terkecuali halnya kebijakan di bidang sosial. 

Sekarang mari kita perhatikan kebijakan dibidang sosial yang dikeluarkan pemerintah Jepang di Indonesia yang digunakan untuk mencapai tujuannya itu.

1. Pembentukan Rukun Tetangga (RT). Anda jangan membayangkan seperti RT yang ada pada zaman kita sekarang ini. Tapi Tanarigumi (RT) yang dibentuk oleh pemerintah Jepang ini, digunakan untuk menggalang dan memobilisasi tenaga yang sangat besar dari kalangan masyarakat untuk membuat benteng-benteng pertahanan, lapangan pesawat terbang darurat, jalan, dan jembatan. Terbentuknya RT ini otomatis akan mempermudah pengawasan dan pengerahan masyarakat untuk melakukan kerja bakti yang serupa dengan kerja paksa (Kinrohoishi) tersebut.
[Baca: Kebijakan Jepang di bidang Pemerintahan]

2. Dibentuknya tenaga Romusha. Romusha awalnya hanyalah tenaga kerja yang dilakukan dengan sukarela, tetapi lama kelamaan berubah menjadi sistem tenaga kerja paksa. Para tenaga romusha ini dipaksa untuk membantu tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh Jepang. Medan peperangan Jepang yang semakin luas menyebakan tenaga romusha ini tidak hanya ditempatkan di Indonesia tetapi juga dikirim sampai ke luar negeri, seperti Malaysia, Myanmar, Serawak, Thailand, dan Vietnam. Bangsa “Kerdil” ini memperlakukan para tenaga kerja ini seperti binatang. Mereka dipaksa bekerja sangat berat tanpa dikasih makan dan minum, apalagi diberikan jaminan kesehatan. Mereka dibiarkan mati begitu saja. Kebiadaban ini menyebabkan pemuda berusaha menghindar dan melakukan perlawanan dari romusha ini, akibatnya Jepang mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga kasar. [Baca juga: Organisasi Militer Bentukan Jepang]

Dua kebijakan di atas tadi adalah sisi yang kelam dari bangsa Jepang di Indonesia. Tapi tidak adil rasanya, kalau kita menafikan kebijakan bidang sosial yang dilaksanakan pemerintah Jepang, yang menguntungkan bagi bangsa Indonesia walaupun pada dasarnya tetap bagi kepentingan Jepang sendiri, yaitu:

3. Kebijakan sosial di bidang pendidikan. Pada zaman Jepang, pendidikan mengalami peru-bahan.
Sekolah Dasar (Gokumin Gakko) diperuntukkan untuk semua warga masyarakat tanpa membedakan status sosialnya. Pendidikan ini ditempuh selama enam tahun. Sekolah menengah dibedakan menjadi dua, yaitu: Shoto Chu Gakko (SMP) dan Chu Gakko (SMA). Di samping itu, ada Sekolah Pertukangan (Kogyo Gakko), Sekolah Teknik Menengah (Kogyo Sermon Gakko), dan Sekolah Guru yang dibedakan menjadi tiga tingkatan. Sekolah Guru dua tahun (Syoto Sihan Gakko), Sekolah Guru empat tahun (Guto Sihan Gakko), dan Sekolah Guru dua tahun (Koto Sihan Gakko).
Seperti pada zaman Belanda, Jepang tidak menyelenggarakan jenjang pendidikan universitas. Yang ada hanya Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Dai Gakko) di Jakarta, Sekolah Tinggi Teknik (Kagyo Dai Gakko) di Bandung. Kedua Sekolah Tinggi itu meru-pakan kelanjutan pada zaman Belanda. Untuk menyiapkan kader pamong praja diselenggarakan Sekolah Tinggi Pamongpraja (Kenkoku Gakuin) di Jakarta. [Silahkan dilihat juga: Kebijakan Ekonomi Penjajah Jepang]

4. Penggunaan Bahasa Indonesia. Menurut Prof. Dr. A. Teeuw (ahli Bahasa Indonesia berkebangsaan Belanda) bahwa pendudukan Jepang merupakan masa bersejarah bagi Bahasa Indonesia. Tahun 1942, pemerintah pendudukan Jepang melarang penggunaan Bahasa Belanda dan digantikan dengan Bahasa Indonesia. Bahkan, pada tahun 1943 semua tulisan yang berbahasa Belanda dihapuskan diganti dengan tulisan berbahasa Indonesia. 

Bahasa Indonesia tidak hanya sebagai bahasa pergaulan, tetapi telah menjadi bahasa resmi pada instansi pemerintah dan lembaga pendidikan. Pada masa ini (1943) bermunculanlah tokoh-tokoh sastra Indonesia, seperti Armin Pane, Abu Hanifah (El Hakim) dan lain-lain dengan karya-karya satra mereka yang sangat luar bisa. Ada lagi Chairil Anwar yang disebut sebagai tokoh Angkatan ‘45, dengan karyanya: Aku, Kerawang Bekasi, dan sebagainya. 

Memang, pemerintahan Balatentara Jepang memberikan wewenang dan kebebasan yang sangat luas bagi penggunaan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia di kalangan pribumi pada waktu itu, sudah menjadi bahasa pengantar, bahasa komunikasi, bahasa resmi, bahasa penulisan, bahasa ilmiah, dan sebagainya. Berbeda jauh bila dibandingkan pada waktu zaman Belanda dulu yang sangat dibatasi penggunaannya untuk menekan timbulnya semangat persatuan dan nasionalisme di kalangan masyarakat pribumi.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/27/2016

Organisasi Islam Muhammadiyah

Organisasi Islam Muhammadiyah
Organisasi Islam Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Pendirinya adalah K.H. Ahmad Dahlan. Tokoh Muhammadiyah selain Ahmad Dahlan adalah di antaranya Sujak, Fachruddin, Tamim, Hisyam, Syarkawi, dan Abdul Candi.

Organisasi Islam Muhammadiyah ini baru mendapatkan pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 22 Agustus 1914. Tujuan utama organisasi keagamaan ini adalah untuk memperbaharui pengamalan agama Islam di Indonesia, dan bertujuan untuk menentang usaha-usaha Kristianisasi yang dilakukan misionaris Barat yang sangat gencar waktu itu.

Organisasi Muhammadiyah adalah organisasi Islam pembeharu, artinya mereformis atau memperbaharui pemikiran umat Islam baik tentang pengamalan maupun pemahaman Islam disesuaikan dengan keadaan zaman yang berkembang pada saat itu. Inilah kemudian yang menjadi alasan utama organisasi Muhammadiyah kurang atau tidak mendapatkan simpati dari umat Islam. Ide pembaharuan yang dibawa mendapat tentangan dari tokoh-tokoh lokal dan pejabat-pejabat kerajaan.

Walaupun demikian para pendiri dan tokoh organisasi ini tetap konsiten, dan pada akhirnya walaupun dengan lamban sekali di tahun 1921 ogranisasi Islam Muhammadiyah ini mulai mampu mengembangkan sayapnya di sekitar Jawa. Dan akhirnya masih pada tahun yang sama Muhammadiyah juga, mulai merambah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Dan pada tahun 1925 organisasi Muhammadiyah memiliki 29 cabang di Indonesia dengan anggota kurang lebih 4.000 orang anggota.

Di Minagkabau, diperkenalkan dan dikembangkan oleh Haji Rasul pada tahun 1925. Interaksinya dengan kelompok pembaharu di Minangkabau menyebabkan Muhammadiyah berkembang pesat di daerah itu. Menyebabkan jumlah dari anggota Muhammadiyah berlipat ganda dari jumlah sebelumnya yang 4.000 orang.

Terhitung pada tahun 1930 jumlah anggota organisasi Islma ini sebanyak 24.000 orang, tahun 1935 berjumlah 43.000 orang, di tahun 1938 jumlah anggota sebanyak 250.000 orang. Mengelola 834 masjid dan memiliki 5.516 orang mubalig pria dan 2.114 mubalig wanita.

Ciri khas Muhammadiyah yang modern dan rasional bisa dilihat dari arah gerakannya. Organisasi ini lebih condong pada upaya penyiapan sumber daya manusia yang tangguh. Inilah yang membedakannya dengan Budi Utomo dan Sarekat Islam. Muhammadiyah memang bergerak di bidang kesejahteraan sosial, dakwah, dan pendidikan Islam.

Sejak saat itulah (Tahun 1925) sejarah Islam modern di Indonesia diwarnai oleh pergerakan persyarikatan Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Organisasi Islam Muhammadiyah seperti K.H. Mas Mansyur, Kahar Muzakir, dan Sukiman Wirjosandjojo mensponsori Partai Islam Indonesia Tahun 1930.


Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/26/2016

Latar Belakang Munculnya Organisasi Islam Indonesia

Latar Belakang Munculnya Organisasi Islam Indonesia




Munculnya organisasi Islam pada masa awal-awal pergerakan nasional di Indonesia, tidak terlepas dari pengaruh pergerakan Islam yang terjadi di Asia Barat.


Pada akhir abad ke- 19 muncul gerakan reformasi di negara-negara Islam Asia Barat. Gerakan ini ingin mencari nilai-nilai yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Reformasi Islam tersebut menjadi gerakan emansipasi keagamaan yang bercita-cita menjalankan Islam sesuai dengan ajaran aslinya dan menginginkan agama Islam dihargai sepenuhnya oleh pihak Barat. Akibatnya, nasionalisme berdasarkan keagamaan ini meluas ke seluruh negara-negara Islam, termasuk pengaruh ini masuk ke Indonesia.

Gerakan reformis Islam di Asia Barat inilah kemudian menjadi ide dan landasan berpikir para tokoh Islamis Indonesia untuk membentuk gerakan yang serupa dengan bermunculannya organisasi-organisasi Islam di Nusantara.

Organisasi Islam yang muncul pada waktu itu adalah Muhammadiah, didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, pada tanggal 18 November 1912. Di Jakarta berdiri Al-Irsyad oleh Syekh Ahmad Surkati pada bulan September 1913. Kemudian di Minangkabau lahir Sumatra Thawalib di tahun 1918. Di samping itu muncul pula organisasi Jong Islamieten Bond (JIB), Pemuda Muslim Indonesia, Anshor Nahdatul Ulama, Pemuda Muhammadiyah dan lain-lain.

Di Indonesia organisasi-organisasi Keislaman ini juga digunakan sebagai senjata ampuh pada masa pergerakan nasional guna membangkitkan semangat jihad dan nasionalisme yang tinggi dalam menghadapi kesewenang-wenangan kolonial. Dan memang sudah terbukti dalam sejarah Indonesia, bahwa para tokoh dan anggota organisasi-organisasi Islam ini memiliki peranan yang sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/26/2016

PETA Prajurit Pembela Tanah Air

PETA Prajurit Pembela Tanah Air

Sebagaimana yang saya janjikan kemarin pada saat menguraikan Organisasi Militer Bentukan Jepang, maka pada kesempatan malam yang baik ini, saya sajikan kepada para pembaca sekalian artikel pelengkapnya, yaitu: PETA Prajurit Pembela Tanah Air. Silahkan dibaca, dihafal, dan dimengerti!

Menjelang berakhirnya latihan kemiliteran angkatan ke 2, keluarlah surat perintah untuk membentuk PETA. Namun, Letjen Kamakici Harada memutuskan agar pembentukkan PETA bukan inisiatif pemerintah Jepang, melainkan inisiatif bangsa Indonesia. Untuk itu, dicarilah seorang putera Indonesia yang berjiwa nasionalis untuk memimpin PETA. Akhirnya, pemerintah Balatentara Jepang meminta Gatot Mangunpraja (seorang nasionalis yang bersimpati terhadap Jepang) untuk menulis permohonan pembentukkan tentara PETA.

Selanjutnya Gatot Mangunpraja per tanggal 7 September 1943 mengirim surat permohonan dan dikabulkan oleh Jepang dengan mengeluarkan Osamu Seirei No. 44, tanggal 3 Oktober 1943. Dan sejak dikeluarkan peraturan inilah tentara Pembela Tanah Air (PETA) resmi terbentuk. PETA dibentuk sebagai pasukan gerilya pembantu guna melawan serbuan pihak Sekutu.

Ternyata kemudian organisasi militer PETA ini, banyak diminati oleh para pemuda terutama mereka yang telah memperoleh pendidikan sekolah menengah dan para anggota Seinendan. Jumlah anggota tentara sukarela Indonesia ini di Jawa, berjumlah tidak kurang dari 37.000 orang dan 20.000 orang di Sumatra (di wilayah ini PETA disebut Gyugun).

Sebagaimana organisasi militer pada umumnya, di PETA juga terdapat beberapa tingkatan kepangkatan atau jabatan, yaitu :
  1. Daidanco, setingkat atau sama dengan komandan batalyon. Yang menduduki jabatan ini, dipilih dari tokoh-tokoh masyarakat, seperti pegawai pemerintah, pemimpin agama, pamong praja, para politikus, penegak hukum, dan tokoh terkemuka lainnya.
  2. Cudanco (Komandan Kompi) dipilih dari mereka yang bekerja tetapi belum memiliki jabatan yang tinggi, seperti para guru, juru tulis, dan sebagainya.
  3. Shudanco (Komandan Pleton) biasanya dipilih dari para pelajar sekolah lanjutan pertama dan atas.
  4. Budanco (Komandan regu)
  5. Giyuhei (Prajurit Sukarela). 4 dan 5 dipilih dari para pelajar sekolah dasar.
Anggota tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang berasal dari berbagai macam kalangan masyarakat tersebut juga dilatarbelakangi oleh berbagai sikap dan motivasi yang mendorong mereka masuk dalam PETA.

1. mereka yang menjadi anggota PETA dengan semangat yang tinggi.
2. mereka yang menjadi anggota PETA karena dipengaruhi orang lain.
3. mereka yang menjadi anggota PETA dengan perasaan acuh tak acuh.

Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa kemenangan Jepang dalam Perang Pasifik akan membawa perubahan hidup bangsa Indonesia, yaitu sebagai bangsa yang merdeka. Di samping itu, ada yang percaya pada ramalan Joyoboyo bahwa Jepang akan meninggalkan Indonesia dan Indonesia akan menjadi negara yang merdeka. Untuk itu, Indonesia memerlukan tentara untuk mengamankan wilayahnya.

Sebagian besar para Daidanco cenderung memiliki sikap kritis terhadap pemerintah Jepang terhadap kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan sehari-hari. Kekeritisan ini terutama dikemukakan oleh anggota PETA yang dahulu berasal dari pergerakan nasional Islam. Berkat bujukan tokoh Jepang mereka terpaksa bergabung dengan PETA. Sikap  tersebut juga menyebabkan mereka tidak nyaman dengan posisinya sebagai perwira PETA. Sikap itu pula yang digunakan untuk melawan propaganda yang dilancarkan Jepang.

Sikap antusias ditunjukkan oleh mereka yang memiliki jabatan Shodanco. Mereka pada umumnya beranggapan harus memaksimalkan usaha membantu Jepang dalam memenangkan perang. Mereka berharap hal itu akan mempercepat cita-cita untuk mencapai Indonesia merdeka. Bagi mereka, PETA merupakan tempat latihan yang luas untuk menghasilkan tenaga-tenaga militer yang mampu membela tanah airnya kelak.

Para anggota PETA mendapat pendidikan militer di Bogor pada lembaga Jawa Boei Giyugun Kanbu Renseitai (Korps Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa). Nama lembaga itu kemudian berubah menjadi Jawa Boei Giyugun Kanbu Kyoikutai (Korps Pendidikan Pemimpin Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa). Setelah mendapat pendidikan, mereka ditempatkan pada daidan-daidan yang tersebar di Jawa, Madura, dan Bali.

Dalam perkembangannya, beberapa anggota PETA mulai kecewa terhadap pemerintah Balatentara Jepang. Kekecewaan itu berujung pada meletusnya pemberontakkan. Pemberontakkan PETA terbesar terjadi di Blitar pada tanggal 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Supriyadi. Pemberontakkan itu dipicu karena kekejaman Jepang dalam memperlakukan para pemuda yang dijadikan tenaga romusha. Organisasi militer bentukan Jepang PETA ini, akhirnya menjadi salah satu alat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. (Dari berbagai sumber)
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/25/2016

Organisasi Militer Bentukan Jepang

Organisasi Militer Bentukan Jepang

Dalam rangka memenangkan perang Asia-Pasifik melawan Sekutu, Jepang membentuk organisasi militer dan yang bersifat semi militer di kalangan pribumi. Pemuda-penuda Indonesia yang berbadan sehat dan kuat diberikan pendidikan militer. Saya pandang pembentukan organisasi dan pendidikan militer seperti PETA merupakan pendidikan dan pengalaman yang sangat berharga bagi rakyat , khususnya bagi para pemuda bersemangat yang dipilih. Organisasi militer ini dapat membuka cakrawala wawasan rakyat mengenai strategi pertempuran modern.

Di bawah ini saya akan memberitahukan kepada anda organisasi-organisasi militer yang dibentuk oleh Jepang tersebut. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Heiho (pembantu prajurit Jepang) adalah kesatuan militer yang beranggotakan para pemuda Indonesia. Heiho menjadi bagian Angkatan Darat maupun Angkatan Laut Jepang.

Anggota Heiho mendapat latihan kemiliteran agar mampu menggantikan prajurit Jepang di dalam peperangan. Para anggota Heiho mendapat latihan untuk menggunakan senjata (senjata anti pesawat, tank, artileri medan, mengemudi, dan sebagainya). Namun, tidak ada satupun anggota Heiho yang berpangkat perwira. Pangkat perwira hanya dipeuntukkan bagi orang-orang Jepang. Para anggota Heiho mendapat latihan kemiliteran. Heiho juga diberikan latihan intelejen, karenanya Heiho juga difungsikan untuk tugas intelejen. Latihan Intelejen diberikan oleh Letnan Yana-gawa.

2. Pembela Tanah Air (PETA). Untuk bagian pembahasan ini, Insya Allah di lain kesempatan saya akan bahas dengan detail dan cukup lengkap.

3. Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Organisasi ini merupakan kelanjutan dari Gerakan 3A yang telah dibubarkan. Putera dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan semangat bangsa Indonesia dalam membantu pemerintah Jepang dalam perang melawan Sekutu. Organisasi ini berdiri pada tanggal 1 Maret 1943 dipimpin oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan Kyai Haji Mansyur. Tetapi kemudian dibubarkan oleh Jepang ditahun 1944, setelah Jepang mengetahui Putera ini dibelokkan sebagai alat perjuangan bangsa.

4. Jawa Hokokai (Kebaktian Rakyat Jawa). Dibentuk tahun 1944 ketika kedudukan Jepang sedang dalam keadaan terdesak di perang Asia-Pasifik. Tujuannya adalah untuk menggerakan seluruh rakyat Indonesia agar berbakti kepada Jepang. Sebagai tanda bahwa rakyat benar-benar berbakti, maka rakyat harus rela berkurban, baik harta benda maupun jiwa dan raga untuk kepentingan perang Jepang. Rakyat Indonesia harus menyerahkan emas, intan, dan segala harta benda (terutama beras) untuk kepentingan perang.

Silahkan anda baca juga artikel sebelumnya: Pendudukan Balatentara Jepang

Demikian akhir artikel saya pada kesempatan sore ini. Semoga tulisan ini 'Organisasi Militer Bentukan Jepang' bermanfaat bagi pembaca sekalian. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/23/2016

Air Tanah dan Pemanfaatannya

Air Tanah dan Pemanfaatannya

Air Tanah adalah air yang tersimpan di dalam tanah yakni yang berada dalam pori-pori atau celah-celah batuan dari air hujan yang meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan berkumpul pada suatu lapisan batuan yang tidak dapat ditembus oleh air (impermeable).

Lawan kata dari lapisan impermeable adalah lapisan permeable (permiabel) yaitu lapisan batuan yang dapat dengan mudah dilalui oleh air tanah, seperti lapisan tanah yang terbentuk dari pasir atau kerikil.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi banyak dan sedikitnya jumlah air yang tersimpan di dalam tanah, antara lain adalah volume air tanah, iklim, topografi, dan jenis batuan.

Sedangkan lapisan batuan yang mengandung air disebut dengan aquifer, yang macamnya dapat dibeda-bedakan sebagai berikut:
  1. Aquifer bebas (water table) adalah tekanan air sama dengan tekanan atmosfer.
  2. Aquifer tertekan, adalah tekanan air tanah jauh lebih besar daripada tekanan atmosfer sehingga air memancar keluar yang disebut sumur artesis.
  3. Aquifer semi tertekan, adalah lapisan batuannya jenuh air, lapisan atas tanah semi lolos air, dan lapisan bawahnya kedap air.
  4. Aquifer semi bebas, adalah aquifer bagian atasnya terdiri atas material berbutir halus.
Dilihat dari letaknya, air tanah dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

1. Air tanah dangkal (air tanah freatis).

Air tanah yang berada di antara muka bumi hingga lapisan kedap air (impermiabel) dinamakan air tanah dangkal atau air tanah bebas. Air tanah ini berasal dari air hujan. Dengan kata lain air tanah yang terdapat di atas lapisan tanah kedap air. Jenis air tanah dangkal ini akan mudah menguap dan berkurang ketika timbul musim kemarau. Contohnya air sumur, sumber air, dan mata air.

2. Air tanah dalam (air tanah artesis).

Air tanah dalam terletak di antara dua lapisan impermeabel (kedap air). Jadi air tanah dalam, artinya air tanah yang terdapat pada lapisan aquifer atau lapisan yang mengandung air di antara dua lapisan batuan kedap air. 

Tempat resapan air tanah dalam adalah di lereng-lereng gunung yang tinggi. Sebagai contoh resapan air bagi sumur artesis Kota Jakarta adalah daerah Puncak (Bogor). Resapan air bagi sumur artesis Kota Manado adalah daerah pegunungan di sebelah selatan Kota Manado. Sumber air untuk sumur artesis tidak terpengaruh oleh musim penghujan atau musim kemarau. Pada masa sekarang, pemanfaatan air dalam dapat dilakukan dengan membuat air sumur bor yang sangat dalam walaupun di daerah dataran rendah.

Pemanfaatan Air Tanah

Air tanah mempunyai manfaat yang sangat vital bagi kelangsungan hidup makhluk hidup, khususnya manusia. Selain dimanfaatkan sebagai sumber air minum, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya dengan membuat sumur, air tanah juga menjadi sumber atau mata air bagi aliran sungai, yang juga sangat penting bagi kehidupan, sumber tenaga (listrik), dan sebagai usaha peternakan dan pertanian.

Terima kasih anda telah membaca artikel ‘Air Tanah dan Pemanfaatannya’, dan ikuti terus artikel-artikel terbaru dari blog ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/23/2016

James Watt Penemu Mesin Uap

James Watt Penemu Mesin Uap

James Watt lahir di Skotlandia, Britania Raya tepatnya di kota Greenock pada tanggal 19 Januari 1736. Dikalangan para ilmuan dan masyarakat dunia, dia disebut-sebut sebagai tokoh kunci Revolusi Industri berkat penemuannya yang sangat luar biasa bagi perkembangan industri di Eropa, khususnya di tanah Inggris Raya. Dialah sang penemu mesin uap mutakhir yang dikembangkan dan disempurnakan dari mesin uap sederhana yang telah dibuat oleh para pendahulunya.

Hasil-hasil penemuan


James Watt merupakan tokoh yang dianggap penemu mesin uap, meskipun sebenarnya dia bukanlah orang yang pertama merancang dan membuat mesin tersebut. Mesin uap pertama kali dirancang oleh Hero dari Iskandariah pada awal tahun Masehi. Bahkan pada tahun 1686 Thomas Savery membikin paten sebuah mesin uap untuk memompa air, dan juga dilakukan oleh seorang Inggris Thomas Newcomen, pada tahun 1712 membuat paten serupa dengan versi yang lebih sempurna. Hanya saja mesin yang diciptakan oleh tokoh-tokoh sebelum James Watt sangat sederhana dan tidak efisien, penggunaannya terbatas sebagai pompa air dari tambang batubara.

Ketertarikan Watt dengan mesin uap ini muncul, ketika dia pada tahun 1764 sedang memperbaiki mesin ciptaan Newcomen. Dengan bekal pendidikan sebagai tukang pembuat perkakas yang diperolehnya cuma setahun, dia mampu menyempurnakan mesin uap ciptaan Newcomen pada bagian-bagian yang sangat penting, sehingga mesin uap menjadi lebih praktis. James Watt memang mempunyai bakat yang besar dalam penemuan dan penciptaan alat/mesin.

Pada 1769, James Watt untuk pertama kalinya berhasil mempatenkan ciptaannya dibidang mesin uap berupa penambahan ruang terpisah yang diperkokoh dan ia berhasil pula membuat isolasi pemisah yang dipergunakan untuk mencegah mengilangnya panas pada silinder uap. Dan tahun 1782 Watt menemukan mesin ganda.

Tahun 1781 dia menemukan seperangkat gerigi untuk mengubah gerak balik mesin sehingga menjadi gerak berputar. Penemuan ini begitu penting karena pegunaan mesin uap dapat ditingkatkan secara besar-besaran.

Dan kurang lebih tujuh tahun kemudian yaitu pada tahun 1788, James Watt juga sukses membuat pengontrol gaya gerak melingkar otomatis, yang menyebabkan kecepatan mesin dapat dikontrol dengan otomatis.

Sedangkan di tahun 1790, J. Watt kembali berhasil menciptakan alat pengukur bertekanan, alat penghitung kecepatan, alat petunjuk dan alat pengontrol uap sebagai tambahan perbaikan lain-lain peralatan.


Karir dan Bisnis


Mengenai kehidupan karir dan bisnis yang dijalani oleh James Watt, penulis berpendapat sebagaimana mungkin para pembaca pikirkan, tidak akan lepas dari mesin dan peralatan-peralatan yang telah diciptakannya. Asumsi ini dapat kita landaskan dari keterangan singkat di bawah ini.

Semenjak penemuan-penemuannya tersebar luas dan manfaatnya sangat dapat dirasakan oleh masyarakat, James Watt dan Matthew Boulton di tahun 1775 membentuk sebuah persekutuan. Matthew Boulton adalah seorang sarjana mesin dan pebisnis ulung. Tidak lebih dari dua puluh lima tahun sesudah itu, persekutuan (perusahaan) ini memproduksi sejumlah besar mesin uap yang laku keras di pasar industri, apalagi Revolusi Industri sedang gencarnya waktu itu, dan karenanya kedua orang tersebut menjadi sangat kaya raya.

Tahun Kematian


James Watt sebagaimana manusia dan makhluk lainnya tidak bisa lepas dari takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan. Di usia 83 tahun, tepatnya pada tanggal, 19 Agustus 1819 - Watt meninggal dunia di Birmingham, Inggris. Dialah salah satu tokoh yang mampu menggoreskan namanya dengan tinta emas pada lembaran sejarah peradaban manusia. Namanya akan tetap dikenang dan abadi selama dunia belum tergulung – watt nama belakangnya dijadikan sebagai nama satuan daya sebagai penghargaan atas sumbangsihnya bagi dunia sepanjang hidupnya. (Berbagai sumber)
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/22/2016

Kebijakan Jepang di Bidang Pemerintahan

Kebijakan Jepang di Bidang Pemerintahan

Kebijakan Jepang di Bidang Pemerintahan - Pada dasarnya pemerintahan pendudukan Jepang adalah pemerintahan militer yang sangat diktator. Untuk mengendalikan keadaan, pemerintahan dibagi menjadi beberapa bagian. Jawa dan Madura diperintah oleh Tentara ke 16 dengan pusatnya di Jakarta. Sumatera diperintah oleh Tentara ke 25 dengan pusatnya di Bukittinggi (Sumatera Barat). Sedangkan Indonesia bagian Timur diperintah oleh Tentara ke 2 (Angkatan Laut) dengan pusatnya di Makasar (Sulawesi Selatan). Pemerintahan Angkatan Darat disebut Gunseibu, dan pemerintahan Angkatan Laut disebut Minseibu.

Masing-masing daerah dibagi menjadi beberapa wilayah yang lebih kecil. Pada awalnya, Jawa dibagi menjadi tiga provinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) serta dua daerah istimewa, yaitu Yogyakarta dan Surakarta. Pembagian ini dianggap tidak efektif sehingga dihapuskan. Akhirnya Jawa dibagi menjadi 17 karesidenan (Syu) dan diperintah oleh seorang Residen (Syucokan). Keresidenan terdiri daKuri kotapraja (Syi), Kabupaten (Ken), kawedanan atau distrik (Gun), kecamatan (Son), dan desa (Ku).

Sumatera dibagi menjadi 10 Karesidenan dan beberapa sub karesidenan (Bunsyu), distrik, dan kecamatan. Sedangkan daerah Indonesia Timur yang dikuasai Angkatan Laut Jepang dibagi menjadi tiga daerah kekuasaan, yaitu: Kalimantan, Sulawesi, dan Seram (Maluku dan Papua). Masing-masing daerah itu dibagi menjadi beberapa karesidenan, kabupaten, sub-kabupaten (Bunken), distrik dan kecamatan.

Pembagian daerah seperti di atas dimaksudkan agar semua daerah dapat diawasi dan dikendalikan untuk kepentingan pemerintah balatentara Jepang. Namun, untuk menjalankan pemerintahan yang efektif dibutuhkan jumlah personil (pegawai) yang banyak jumlahnya. Sedangkan jumlah orang Jepang di Indonesia tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga dalam bidang pemerintahan. Untuk mengawal dan menjalankan pemerintahan secara efektif merupakan tantangan yang berat karenai terbatasnya jumlah pegawai atau orang-orang yang dapat dipercaya untuk memegang jabatan penting dalam pemerintahan.

Untuk mengatasi kekurangan jumlah pegawai, pemerintah Jepang dapat menempuh beberapa pilihan, di antaranya:
  1. Memanfaatkan orang-orang Belanda yang masih ada di Indonesia. Pilihan ini sangat tidak mungkin karena Jepang sedang menanamkan sikap anti Belanda di kalangan penduduk Indonesia.
  2. Menggunakan tenaga Timur Asing (Cina). Pilihan ini juga sangat berat karena Cina dianggap sebagai lawan politik Jepang yang paling berbahaya untuk mewujudkan cita-cita Jepang, yaitu membangun Asia Timur Raya.
  3. Memanfaatkan penduduk Indonesia. Pilihan ini dianggap yang paling realistik karena sesuai dengan semboyan 'Jepang sebagai saudara tua' yang ingin membebaskan saudara mudanya dari belenggu penjajahan Eropa. Di samping itu, pemakaian bangsa Indonesia sebagai dalih agar bangsa Indonesia benar-benar bersedia membantu untuk memenangkan perang yang sedang dilakukan Jepang.
Sebenarnya, pilihan-pilihan di atas sama-sama tidak menguntungkan. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan (bahkan terpaksa) Jepang memilih penduduk Indonesia untuk menjalankan roda pemerintahan. Jepang dengan berat harus menyerahkan beberapa jabatan kepada orang Indonesia. Misalnya, Departemen Urusan Agama dipimpin oleh Prof. Husein Djajadiningrat, serta Mas Sutardjo Kartohadikusumo, dan R.M.T.A. Surio sebagai Residen Jakarta dan Residen Bojonegoro. Di samping itu, beberapa tokoh nasional yang mendapatkan kepercayaan untuk ikut menjalankan roda pemerintahan adalah Ir. Sukarno, Mr. Suwandi, dr. Abdul Rasyid, Prof. Dr. Supomo, Mochtar bin Prabu Mangkunegoro, Mr. Muh. Yamin,, Prawoto Sumodilogo, dan sebagainya. Bahkan, kesempatan untuk duduk dalam Badan Pertimbangan Pusat (Chuo Sangi In), semacam Volksraad pada zaman Belanda semakin terbuka.

Kesempatan untuk menduduki beberapa jabatan dalam pemerintahan Jepang dan menjalankan roda pemerintahan merupakan pengalaman berharga bagi bangsa Indonesia, terutama setelah Indonesia merdeka. Sebagai bangsa yang merdeka, bangsa Indonesia harus menjalankan pemerintahan secara baik. Oleh karena itu, pengalaman pada masa pemerintahan Jepang merupakan modal yang sangat berguna karena bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelola organisasi besar seperti negara.

Sumber: I Wayan Legawa, dkk dalam Contextual Teaching and Learnig: IPS SMP, Kelas IX Edisi 4. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, Tahun 2008.

Demikianlah uraian yang cukup lengkap mengenai Kebijakan Jepang di Bidang Pemerintahan selama masa pendudukan balatentara Jepang di Indonesia tercinta. Semoga bermanfaat!
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/21/2016

Kebijakan Ekonomi Penjajah Jepang di Indonesia

Kebijakan Ekonomi Penjajah Jepang di Indonesia
Kempetai (Korps Polisi Milter Jepang
Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh penjajah Jepang setalah menduduki Indonesia pada tahun 1942 adalah sebagai berikut:

1. Perluasan areal pertanian atau persawahan. Hal ini dilakukan pemerintah pendudukan Jepang setelah melihat produksi hasil pertanian terutama produksi beras tidak dapat memenuhi kebutuhan. Tapi kenyataannya hasil pertanian terus menurun antara tahun 1941 - 1944.

2. Melakukan pengawasan pertanian dan perkebunan dengan sangat ketat. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mengendalikan harga pangan terutama beras. Kebijakan ini dilaksanakan dengan cara paksaan terhadap para petani.

Hasil pertanian diatur sebagai berikut: 40 % untuk petani, 30 % harus dijual kepada pemerintah Jepang dengan harga yang sangat murah, dan 30 % lagi harus diserahkan ke lumbung desa. Kebijakan yang sangat merugikan petani ini diawasi dengan ketat, siapa pun yang membangkang dan melanggar akan dihukum dengan berat oleh Kempetai (Korps Polisi Militer) yang sangat ditakuti oleh rakyat.

Demikian halnya pula dengan pengawasan produksi perkebunan, juga dilakukan dengan ketat. Jepang hanya mengizinkan dua jenis tanaman perkebunan yakni karet dan kina. Kedua jenis tanaman ini berhubungan langsung dengan kepentingan perang. Sementara itu tanaman seperti tembakau, kopi dan teh tidak boleh ditanam lagi karena hanya berhubungan dengan kenikmatan saja. Padahal ketiga jenis tanaman itu sangat laku di pasaran dunia. Akibatnya petani menderita kerugian yang sangat besar dan terhimpit kemiskinan.

Jepang selalu berdalih demi kepentingan perang dalam mengeruk dan menguasai sumber daya ekonomi (pertanian dan kekayaan) rakyat. Setiap penduduk harus menyerahkan kekayaan kepada pemerintah Jepang dengan dalih kepentingan perang. Rakyat harus menyerahkan barang-barang berharga (emas dan berlian), hewan, bahan makanan kepada pemerintah Jepang. Untuk memperlancar usaha-usaha ini, Jepang membentuk Jawa Hokokai (Kebaktian Rakyat Jawa) dan Nogyo Kumiai (Koperasi Pertanian).

Kebijakan ekonomi penjajah Jepang di Indonesia ini, mengakibatkan kehidupan rakyat semakin sengsara dan menderita, berlipat-lipat kali dibandingkan dengan penderitaan dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh ulah penjajah Belanda. Jepang adalah biang kesengsaraan dan penderitaan rakyat walaupun mereka menduduki Indonesia hanya selama tiga setengah tahun. Aduhh Jepang, tidak heran engkau di BOM ATOM.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/20/2016

Pendudukan Balatentara Jepang di Indonesia

Pendudukan Balatentara Jepang di Indonesia
Tentara Jepang di Indonesia pada zaman pendudukan Jepang

Pendudukan Balatentara Jepang di Indonesia - Jepang mulai menguasai Indonesia secara resmi pada tanggal 8 Maret 1942, setelah Panglima Tertinggi Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung.

Pada mulanya rakyat Indonesia menyambut gembira kedatangan balatentara Jepang karena adanya harapan dari bangsa Indonesia bahwa Jepang akan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme Belanda. Rasa gembira ini semakin berlebih ketika Jepang di akhir Maret 1942 menyampaikan semboyan Gerakan 3A (Nippon Cahaya Asia; Nippon Pelindung Asia; Nippon Pemimpin Asia) dan pengakuan sebagai "saudara tua".

Namun akhirnya sifat licik bangsa Jepang pun muncul. Jepang tidak beda dengan negara-negara imperialis lainnya. Jepang menjadi negara imperialis baru, bersama-sama dengan Jerman dan Italia. Sebagai negara imperialis, Jepang tentu saja membutuhkan banyak bahan-bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan Industrinya dan pasar bagi barang-barang industrinya. Untuk itu mutlak baginya untuk mendapatkan tanah-tanah jajahan yang kaya seperti Indonesia. Sekarang jelaslah sudah bagi rakyat bahwa kedatangan Jepang tiada lain hanya untuk menjajah dan mengeruk kekayaan alam Indonesia dan mengekspoitasi manusianya, bukan sebagai saudara tua yang dapat diharapkan uluran tangannya.

Pendudukan Balatentara Jepang di Indonesia
Jugun Ianfu atau wanita dijadikan budak sex

Sungguh malang bagi rakyat, setelah ditipu ternyata kekejaman balatentara bangsa kate ini jauh melebihi penjajah Belanda sebelum ini. Kehidupan rakyat jadinya semakin sengsara dan semakin miskin. Sumber-sumber ekonomi diawasi secara ketat oleh pasukan Jepang untuk kepentingan peperangan dan industri Jepang.

Untuk menjaga kepentingannya ini, Jepang di negara-negara jajahannya termasuk di Indonesia melakukan cara-cara sebagai berikut.
  1. Dengan menerapkan sistem Romusha. Romusha adalah tenaga kerja paksa yang diambil (ditangkap) dari para pemuda dan petani untuk dipaksa bekerja pada proyek-proyek yang dikembangkan pemerintah pendudukan Jepang. Banyak rakyat meninggal akibat romusha ini, karena mereka menderita kelaparan dan menderita berbagai penyakit.
  2. Hasil-hasil pertanian diawasi dengan sangat ketat dan harus diserahkan pada pemerintah Balatentara Jepang baik secara sukarela maupun dengan paksaan.
  3. Hewan peliharaan penduduk pun tidak luput dari rampasan paksaan Jepang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama perang.
Itulah sebagian kecil dari gambaran kerakusan, ketamakan dan kekejaman selama Pendudukan Balatentara Jepang di Indonesia dan negara jajahannya yang lain di Asia dan Pasifik. Tidak heran pada masa itu tentara Jepang banyak yang mengidap penyakit jiwa dan terjangkit berbagai penyakit kelamin. Penyakit kelamin ini disebabkan oleh keranjingan mereka memperkosa dan menjadi wanita di berbagai negara jajahannya sebagai budak seksual mereka (Jugun Ianfu). 
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/19/2016

Daftar Anggota PPKI

PPKI dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945 bersamaan dengan dibubarkannya BPUPKI oleh pemerintah. Jepang. Yang ditunjuk sebagai ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ini adalah Ir. Soekarno dan wakli ketua adalah Drs. Mohammad Hatta, serta penasihat ditunjuk Mr. Ahmad Subardjo. Awalnya PPKI atau Dokuritu Zyunbi Iin Kai beranggotakan 21 orang, tetapi kemudian ditambah 6 anggota lagi dengan tanpa seizin Jepang. Berikut ini daftar anggota PPKI.

1. Nama : Anang Abdul Hamidan.
Tempat dan tanggal lahir : Rantau, Kalsel, 25-02-1909
Pekerjaan : Penanggung jawab Kalimantan Raya kemudian Borneo Shimbun
Keterangan : -

2. Nama : Andi Pangeran Pettarani
Tempat dan tanggal lahir : Gowa, Sulsel, 14-04-1903
Pekerjaan : Bontonompo (Gowa) dan Arung Macege (Bone)
Keterangan : -

3. Nama : Bandoro Pangeran HarioPurubojo.
Tempat dan tanggal lahir : Yogyakarta, 25-06-1906
Pekerjaan : Pembesar Kawedanan Kori Kraton Yogyakarta, Angg Tyuuoo Sangi In
Keterangan : Pernah juga menjadi anggota BPUPKI

4. Nama : Bendoro Kanjeng Pangeran ArioSuryohamijoyo
Tempat dan tanggal lahir : Solo, 13-10-1905
Pekerjaan : Ajudan Sri Susuhunan Surakarta
Keterangan : Pernah juga menjadi anggota BPUPKI

5. Nama : Dr. G.S.S.J. Ratulangie.
Tempat dan tanggal lahir : Tondano, Minahasa, 05-11-1890
Pekerjaan :Peg Kantor Chosasitu Jakarta dan Makasar (Sw)
Keterangan : Gubernur Sulawesi I

6. Nama : Dr. Kanjeng Raden Tumenggung RajimanWedyodiningrat.
Tempat dan tanggal lahir : Yogyakarta, 21-04-1879
Pekerjaan : Angg Tyuuoo Sangi In, Pertanian di Bulak Ngalaran Walikukun Kab Ngawi
Keterangan : Pernah juga menjadi anggota BPUPKI

7. Nama : Dr. M. Amir.
Tempat dan tanggal lahir : Talawi, Sawahlunto, Sumbar, 27-01-1900
Pekerjaan : Dokter Pribadi Sultan Langkat Tanjungpura Sumut
Keterangan : Men Neg

8. Nama : Drs. Muhammad Hatta.
Tempat dan tanggal lahir : Bukit Tinggi, Sumbar, 12-08-1902
Pekerjaan : Angg Tyuuoo Sangi In, Wa Ketua Hookoo Kaigi Jawa Hookookai.
Keterangan : Wakil Presiden I, Anggota BPUPKI.

9. Nama : Drs. Yap Tjwan Bing
Tempat dan tanggal lahir : Solo, 31-10-1910
Pekerjaan : Pengelola Apotek Suniaraya
Keterangan : -

10. Nama : Haji Abdul Wahid Hasyim.
Tempat dan tanggal lahir : Jombang, 12-02-1913
Pekerjaan : Berniaga, Penasehat Kantor Penyelidikan Surabaya
Keterangan : Pernah juga menjadi anggota BPUPKI

11. Nama : Haji Teuku Mohammad Hasan
Tempat dan tanggal lahir : Pidie, Aceh, 04-04-1906
Pekerjaan : Peg Kantor Gubernur Medan
Keterangan : Gubernur Sumatera I

12. Nama : Ir. Sukarno.
Tempat dan tanggal lahir : Surabaya, 06-06-1901
Pekerjaan : Penasehat Tyuuoo Sangi In, Sango Soomubu Jakarta
Keterangan : Presiden I, Anggota BPUPKI

13. Nama : Ki Bagus Hadikusumo
Tempat dan tanggal lahir : Yogyakarta, xx-xx-1890
Pekerjaan : Angg Tyuuoo Sangi In, Ketua Muhammadiyah.
Keterangan : Pernah juga menjadi anggota BPUPKI

14. Nama : Ki Hajar Dewantara.
Tempat dan tanggal lahir : Paku Alaman, Yogyakarta, 08-05-1889
Pekerjaan : Angg Tyuuoo Sangi In Soomu Jawa Hookookai Yogyakarta.
Keterangan : Menteri P&K I, Anggota BPUPKI, Anggota tambahan PPKI.
15. Nama : Mas Sutarjo Kartohadikusumo.
Tempat dan tanggal lahir : Kunduran, Blora, 22-10-1892
Pekerjaan : Syuutyookan Jakarta.
Keterangan : Gubernur Jabar I, juga anggota BPUPKI

16. Nama : Mr. Abdul Abbas.
Tempat dan tanggal lahir : Diskie, Binjai, Sumut, 11-08-1906
Pekerjaan : Angg Tyuuoo Sangi In Sumatera
Keterangan : Residen Lampung I

17. Nama : Mr. I Gusti Ketut Puja.
Tempat dan tanggal lahir : Singaraja, Bali, 19-05-1908
Pekerjaan : Giyozei Komon (Sunda Minseibu)
Keterangan : Gubernur Sunda Kecil I

18. Nama : Mr. Raden Ahmad Subarjo.
Tempat dan tanggal lahir : Krawang, 23-03-1897
Pekerjaan : Pem bag Informasi Gunseikanbu cabang I Jakarta
Keterangan : Men LN I, Anggota BPUPKI, Anggota tambahan PPKI.

19. Nama : Mr. Raden Iwa KusumaSumantri
Tempat dan tanggal lahir : Ciamis, 31-05-1899
Pekerjaan : Bekas hakim Keizei Hooin Makassar
Keterangan : Anggota tambahan PPKI.

20. Nama : Mr. Raden Kasman Singodimejo
Tempat dan tanggal lahir : Kalirejo, Purworejo, 25-02-1908
Pekerjaan : Dai Dantyoo PETA Jakarta
Keterangan : Ketua BKR, Ketua KNIP, Jaksa Agung, Anggota tambahan PPKI.

21. Nama : Mr. Yohanes Latuharhary
Tempat dan tanggal lahir : Saparua, Ambon, 06-07-1900
Pekerjaan : Peg. Somubu Jakarta.
Keterangan : Gubernur Maluku I, Anggota BPUPKI.

22. Nama : Muhammad Ibnu Sayuti Melik.
Tempat dan tanggal lahir : Yogyakarta, 25-11-1908
Pekerjaan : Pemred Surat Kabar Sinar Baru Semarang
Keterangan : Anggota tambahan PPKI.

23. Nama : Prof. Dr. Mr. Raden Supomo.
Tempat dan tanggal lahir : Sukoharjo, Solo, 22-01-1903
Pekerjaan : Pem. Hooki Kyoku, Angg Saikoo Hooin
Keterangan : Men Keh I, anggota BPUPKI

24. Nama : Raden Abdul Kadir.
Tempat dan tanggal lahir : Binjai, Sumut, 06-06-1906
Pekerjaan : Opsir PETA.
Keterangan : Pernah juga menjadi anggota BPUPKI

25. Nama : Raden Adipati Wiranatakusuma
Tempat dan tanggal lahir : Bandung, 08-08-1888
Pekerjaan : Bupati Bandung
Keterangan : Men Dagri I, Anggota BPUPKI, Anggota tambahan PPKI.

26. Nama : Raden Oto Iskandardinata.
Tempat dan tanggal lahir : Bojongsoang, Kab Bandung, 31-03-1897
Pekerjaan : Angg Tyuuoo Sangi In, Zissenkyokutyoo Jawa Hookookai Jakarta.
Keterangan : Meneg Kabinet I, pernah menjadi anggota BPUPKI

27. Nama : Raden Panji Suroso.
Tempat dan tanggal lahir : Porong, Sidoarjo, 03-11-1893
Pekerjaan : Wa Ketua Syuu Hookoo Kai Malang
Keterangan : Gubernur Jateng I, pernah menjadi anggota BPUPKI
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/18/2016

Susunan Pengurus BPUPKI

Pembentukan BPUKI merupakan langkah konkret Jepang bagi pelaksanaan janji Koiso tentang kemerdekaan Indonesia di kelak kemudian hari. Badan ini beranggotakan 67 orang dan terdiri atas tokoh-tokoh utama pergerakan nasional Indonesia. Susunan pengurusnya baru diumumkan pada tanggal 29 April 1945. Susunan pengurus BPUPKI sebagai berikut.

Ketua                                   : Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat
Wakil Ketua                         : a. Ichibangase (merangkap Kepala Badan Perundingan)
                                               b. R.P. Soeroso
Kepala Sekretariat               : R.P. Soeroso
Wakil Kepala Sekretariat     : a. Mr. A.G. Pringgodigdo
                                               b. Toyohito Masuda
Anggota                               : 67 orang terdiri atas:
a. Lima puluh empat orang Indonesia.
b. Empat orang golongan Cina.
c. Satu orang golongan Arab.
d. Satu orang peranakan Belanda, dan
e. Tujuh orang Jepang tanpa hak suara. 

===>Baca Juga : Daftar Nama-Nama Anggota BPUPKI<===

Upacara peresmian Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 di gedung Cuo Sangi In di Jalan Pejambon, Jakarta. Pada saat upacara peresmian, dilakukan upacara pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih oleh Toyohito Masuda. Peristiwa tersebut membangkitkan semangat para anggota BPUPKI dalam usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. (Buku PG IPS Terpadu kelas VIII, JP Books)
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/17/2016

Arti Penting Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Jakarta

Masyarakat di berbagai tempat dipelopori para pemuda menyelenggarakan rapat dan demonstrasi untuk membulatkan tekad menyambut kemerdekaan. Di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) pada tanggal 19 September 1945 dilaksanakan rapat umum yang dipelopori Komite Van Aksi. Berlangsungnya rapat raksasa Ikada menunjukkan dukungan besar rakyat terhadap pemerintahan yang baru terbentuk. Sekitar dua ratus ribu orang hadir dalam pertemuan tersebut. Pada peristiwa ini kekuatan Jepang termasuk tank-tank, berjaga-jaga dengan mengelilingi lokasi rapat umum tersebut. Rapat Ikada dihadiri oleh Presiden Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta sejumlah menteri. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Ir. Soekarno menyampaikan pidato yang berisi permintaan agar rakyat memberi kepercayaan dan dukungan kepada pemerintah RI, mematuhi perintahnya dan tunduk serta disiplin. Setelah itu Presiden Ir. Soekarno meminta rakyat yang hadir membubarkan diri dan bersikap tenang.

Makna rapat raksasa di Lapangan Ikada bagi bangsa Indonesia sebagai berikut.
  • Rapat tersebut berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya.
  • Rapat tersebut merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah Republik Indonesia terhadap rakyat.
  • Menanamkan kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan sendiri.
  • Rakyat mendukung pemerintahan yang baru terbentuk. 
Tulisan ini dikutip dari buku PG IPS Terpadu Kelas VIII, PT. JePe Press Media Utama, Surabaya. 
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/16/2016

RAPAT RAKSASA IKADA

Apakah yang ada dibenak anda ketika membaca judul artikel ini? Mungkin sebagian dari pembaca ada yang menjawab bahwa Rapat Raksasa Ikada merupakan rapat yang dihadiri oleh sejumlah orang banyak dari tokoh-tokoh yang berada di Lapangan Ikada, atau mungkin ada juga yang tidak tahu harus menjawab apa. Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya mari simak terus pembahasannya di bawah ini.

Rapat Raksasa ini terjadi pada tanggal 19 September 1945 di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Rapat Raksasa Ikada ini dipelopori oleh Komite Van Aksi yang bermarkas di Jalan Menteng 31 Jakarta. Sekitar 200.000 orang atau lebih dari 300.000 orang dari sumber yang berbeda, ikut mengahidiri pertemuan di Ikada tersebut. Pertemuan ini dikawal dan dijaga ketat oleh tank-tank dan para serdadu Jepang dengan sangkur terhunus.

Paling tidak ada 3 alasan kenapa Rapat Raksasa di Lapangan Ikada, Jakarta tersebut terlaksana:
  1. Dimaksudkan sebagai bentuk dukungan terhadap berdirinya negara Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.
  2. Sebagai bentuk protes terhadap pengumuman panglima tentara Jepang di Jawa tanggal 10 September 1945 yang menyatakan bahwa kekuasaannya di Indonesia akan diserahkan kepada Sekutu/Belanda bukan kepada Indonesia.
  3. Pertemuan para pemimpin penting dengan rakyatnya. Pada kesempatan ini Soekarno berpidato secara langsung di depan rakyat yang hadir pada pertemuan itu.
Rapat Raksasa Ikada dihadiri oleh Presiden Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta serta sejumlah menteri. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Presiden menyampaikan pidato yang intinya berisi permintaan agar rakyat memberi kepercayaan dan dukungan kepada pemerintah RI, mematuhi perintahnya, tunduk, serta disiplin. Di akhir pidato beliau meminta rakyat yang hadir bubar dan tenang. Berikut pidato/istruksi singkat yang disampaikan oleh Presiden Soekarno pada pertemuan tersebut.

 
“Percayalah rakyat kepada Pemerintah Republik Indonesia. Kalau memang saudara-saudara percaya kepada Pemerintah Republik Indonesia yang akan mempertahankan proklamasi kemerdekaan itu, walaupun dada kami akan dirobek-robek, kami akan tetap mempertahankan. Maka berilah kepercayaan kepada kami dengan cara tunduk pada perintah-perintah dan tunduk kepada disiplin”.

Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/16/2016

Tindakan Heroik Diberbagai Daerah Pasca Proklamasi Kemerdekaan

Setelah penyebaran berita proklamasi kemerdekaan sampai dan terdengar diberbagai daerah di Indonesia, berbagai tanggapan dan reaksi dari seluruh lapisan masyarakat pun bermunculan. Tapi kebanyakan merasa terpicu adrenalinnya, terbakar semangatnya sehingga memunculkan berbagai tindakan heroik merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Berikut tindakan heroik diberbagai daerah pasca penyebaran berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Insiden Bendera di Hotel Yamato dan Pertempuran Surabaya


Insiden bendera ini terjadi pada tanggal 22 September 1945. Penyebabnya pasukan Sekutu membantun tentara Belanda bekas tawanan Jepang menguasai Hotel Yamato. Di sana orang-orang Belanda tersebut kemudian mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel, sebagai bentuk penghinaan bagi bangsa Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaannya. Kontan saja ini kemudian menimbulkan amarah terutama dari kalangan pemuda. Beberapa pemuda dengan dimotori oleh Bung Tomo dan Dr. Mustopo, kemudian menyerbu dan menurukan bendera Belanda tersebut dan merobek bagian birunya, sehingga yang tinggal hanya merah putih saja. Bendera merah putih ini kemudian dinaikkan dan dikibarkan.

Keadaan semakin memanas dan memuncak setelah terbunuhnya Jenderal A.W.S. Mallaby, pasukan Sekutu mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan kaum pejuang menyerah. Hal ini tidak diindahkan oleh para pejuang, sehingga meletuslah pertempuran yang sengit antara pasukan Sekutu melawan pasukan pejuang (pemuda), perang ini kemudian terkenal dengan Perang 10 November. Perang ini menyebabkan gugurnya banyak pejuang Indonesia. Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka setiap tanggal 10 November, diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Di Yogyakarta


Perebutan kekuasaan dilakukan serentak pada tanggal 6 Oktober 1945. Terjadi pemogokan besar-besaran yang dilakukan oleh para pegawai instansi-instansi dan perusahaan milik Jepang sejak pagi. Mereka menuntut agar pemerintah Jepang menyerahkan semua kantor yang dikuasai mereka kepada pemerintah RI. Massa bergerak ke Kotabaru dan bergabung dengan pemuda pejuang. Serangan ke Kotabaru ini mengakibatkan 21 orang gugur dari Indonesia dan 9 orang tewas dari Jepang. Tapi kemudian markas Kotabaru ini berhasil diduduki, dan Yogyakarta berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia. Baca juga Dukungan Kesultanan Yogyakarta Untuk Indonesia Merdeka.

Medan Area


Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal T.E.D. Kelly tiba di Sumatera Utara pada tanggal 9 Oktober 1945. Kedatangan Sekutu ini bersama NICA. Kecongkakan Pasukan NICA (Belanda) di atas takaran ini memicu kemarahan Pemuda Medan, sehingga mulai muncullah bentrokan. Bentrokan pertama pada tanggal 13 Oktober 1945 di sebutah hotel di jalan Bali dipicu oleh tindakan seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak lencana merah putih yang dipakai oleh seorang Indonesia. Bentrokan ini menelan korban luka sebanyak 96 orang, yang sebagian besarnya NICA. Permusuhan antara Sekutu yang diboncengi NICA semakin meluas, mereka memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Baundaries Medan Area di berbagai sudut kota. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian memunculkan istilah yang terkenal dengan Medan Area.

Pertempuran Lima Hari di Semarang


Pertempuran ini terjadi pada tanggal 15 - 20 Oktober 1945. Pertempuran ini diawali dari peristiwa kaburnya para tawanan bekas tentara Jepang sejumlah 400 orang dalam perjalanannya menuju penjara Bulu. Para tawanan ini ditahan oleh para pemuda pada tanggal 14 Oktober, sehari sebelum terjadi pertempuran. Tentara Jepang yang melarikan diri ini kemudian meminta bantuan kepada Batalion Kido. Tindakan ini direspon oleh para pemuda dengan merebut serta menduduki kantor pemerintahan Jepang. Pasukan Jepang pun ditangkap dan ditawan. Namun keesokan harinya yaitu tanggal 15 Oktober pasukan Jepang melakukan serbuan ke Semarang. Maka terjadilah pertempuran antara pemuda dengan pasukan Jepang yang berlangsung selama lima hari. Menurut beberapa sumber kurang lebih sebanyak 2.000 orang Indonesia menjadi korban, dan sebanyak 100 orang Jepang tewas.

Perang lima hari di semarang ini juga disulut oleh kemarahan rakyat atas penembakan sewenang-wenang terntara Jepang terhadap dr. Karyadi salah seorang dokter yang akan memeriksa sumber air minum warga Semarang yang diracun oleh Jepang. Pertempuran lima hari ini baru berhenti setelah pimpinan TKR berunding dengan pasukan Jepang. Usaha perdamaian antara dua kubu ini semakin cepat setelah pasukan Sekutu tiba di Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1945. Selanjutnya, Sekutu menawan dan melucuti senjata tentara Jepang.

Di Sulawesi Selatan


Di Sulawesi Selatan, Raja Bone (Arumpone) La Mappanjuki, yang masih tetap ingat akan pertempuran-pertempuran melawan Belanda pada awal abad XX menyatakan dukungannya terhadap negara kesatuan dan pemerintahan Republik Indonesia. Mayoritas raja-raja suku Makasar dan Bugis mengikuti jejak Raja Bone mengakui kekuasaan Dr. Sam Ratulangie yang ditunjuk pemerintah sebagai gubernur republik Indonesia di Sulawesi

Pada tanggal 28 Oktober 1945 para pemuda yang tergabung dalam Barisan Berani Mati bergerak untuk melakukan pendudukan gedung yang dianggap penting seperti radio, tangsi militer, dan pos polisi. Gerakan ini bertujuan untuk menegakkan dan membela proklamasi kemerdekaan Indonesia. Gerakan ini terus menjalar ke daerah Gorontalo dan Minahasa.

Bandung Lautan Api


Peristiwa Bandung Lautan Api mungkin pertempuran yang paling banyak ditahu oleh seluruh rakyat Indonesia, tentu saja di samping pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Adapun penyebab pertempuran ini bermula dari ultimatum yang dikeluarkan Sekutu pada tanggal 23 Maret 1946 terhadap TRI (Tentara Republik Indonesia) di Bandung.

Ultimatun tersebut berupa perintah bagi TRI supaya segera mengosongkan Kota Bandung dan mundur sejauh 11 km. Tentu saja ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh TRI sehingga berakibat pada terjadinya pertempuran. Setelah TRI merasa terdesak, Panglima Divisi III TRI memerintahkan untuk mengosongkan Kota Bandung, tetapi sebelumnya harus membakar semua fasilitas penting, termasuk rumah warga dan tentara sendiri. Semua gedung dan rumah pun kemudian dibakar oleh TRI dan rakyat. Peristiwa ini kemudian terkenal dengan Bandung Lautan Api.

Demikianlah berbagai tindakan heroik diberbagai daerah setelah proklamasi kemerdekaan RI dikumandagkan oleh dua bapak bangsa kita Sukarno dan Hatta. Sebenarnya peristiwa heroik tersebut tidak hanya terjadi pada daerah-daerah yang kita sebutkan di atas, tetapi juga terjadi pada semua daerah yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat!
 
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/15/2016

Isi Pertemuan Tiga Tokoh Indonesia dengan Terauchi

Isi Pertemuan Tiga Tokoh Indonesia dengan Terauchi - Pada tanggal 7 Agustus 1945 Jepang membubarkan BPUPKI dan sebagai gantinya pada hari itu juga diumumkan pembentukan PPKI. Untuk keperluan pelantikan anggota PPKI, maka Jenderal Terauchi selaku panglima armada Jepang untuk Asia Tenggara memanggil tiga tokoh penting Indonesia, yaitu Soekarno, Moh. Hatta dan Radjiman Wediodiningrat ke Dalat, Vietnam, pada tanggal 9 Agustus 1945. Maka pada hari itu anggota PPKI secara resmi dilantik secara simbolik oleh Jenderal Terauchi.

Jepang melalui Jenderal Terauchi mengatakan pada tiga tokoh Indonesia eks anggota BPUPKI bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Pada kesempatan itu, Jepang menegaskan akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1945.

Pada pertemuan dengan ketiga tokoh nasional tersebut, Jenderal Terauchi menyampaikan hal-hal berikut:
  1. Pemerintah Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.
  2. Untuk melaksanakan kemerdekaan dibentuk PPKI sebagai pengganti BPUPKI
  3. Pelaksanaan kemerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai dilakukan dan secara berangsur-angsur dari Pulau Jawa, baru disusul oleh pulau lainnya.
  4. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.
  5. Pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai. PPKI diketuai oleh Ir. Soekarno dan Wakil Ketua Drs. Moh. Hatta.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Ir, Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. KRT. Radjiman Wediodinigrat pulang ke tanah air. Berlanjut ke PPKI.

Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/13/2016

Komponen-Komponen Peta

Komponen-Komponen Peta
Perhatikan komponen-komponen peta yang terdapat pada peta Provinsi NTB di atas!

Menyambung pembahasan kita tentang syarat-syarat pembuatan peta beberapa hari yang lalu, maka pada kesempatan kali ini admin akan membahas mengenai unsur-unsur atau komponen-komponen yang harus ada pada peta, sehingga mudah dibaca dan dipahami.

Di bawah ini adalah unsur-unsur atau komponen-komponen yang terdapat pada peta.

1. Judul peta. Biasanya ditaruh di tengah atas dengan menggunakan huruf kapital tegak. Judul peta dimaksudkan untuk menunjukkan informasi yang terdapat pada peta.

2. Skala. Perbandingan jarak atau skala ini biasanya ditulis di bawah legenda atau di bawah judul peta. Skala ini dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
  • skala angka (numerik), yaitu skala yang dinyatakan dengan angka. Contoh skala 1 : 100.000 artinya 1 cm di peta sama dengan 1 km jarak sebenarnya di bumi.
  • Skala garis (grafik), yaitu skala yang dinyatakan dalam bentuk gambar garis yang disertai dengan angka dan ukuran.
  • Skala verbal, yaitu skala yang dinyatakan dengan kalimat. Contoh 1 cm di peta = 5 km di lapangan.
3. Garis astronomis, yaitu garis bujur dan garis lintang. Garis astronomi ini dapat memberikan informasi yang jelas tentang posisi wilayah yang dipetakan. Dan dapat menggambarkan keadaan iklim dan daerah waktu yang ada pada wilayah yang dipetakan tersebut.

4. Penunjuk Arah (tanda orientasi/mata angin), yaitu tanda yang menunjukkan arah pada peta dan biasanya digambarkan dengan tanda panah dengan ujungnya ditulisi huruf U, yang berarti arah utara.

5. Simbol, merupakan tanda, berupa simbol garis, simbol titik, bidang (daerah), dan simbol warna, yang digunakan untuk mewakili objek yang dipetakan.

6. Legenda adalah keterangan dari simbol-simbol yang digunakan pada peta, sehingga memudahkan pembaca dalam melihat dan memahami peta. Legenda kebanyakan ditempatkan pada bagian bawah peta, baik di pinggir maupun di tengah dalam bentuk kolom.

7. Inset adalah peta kecil yang disisipkan pada peta utama, digunakan untuk menunjukkan wilayah lebih luas di sekitar peta utama. Inset ini berguna juga untuk memudahkan pembaca peta menemukan letak wilayah yang dipetakan.

8. Sumber dan tahun pembuatan peta. Fungsinya untuk mengetahui kapan peta itu dibuat dan dari mana atau siapa sumbernya. Hal ini penting karena adanya pemekaran wilayah sehingga peta juga harus diubah. Di letakkan di bagian bawah kolom legenda atau di sudut kiri bawah di luar tepi peta.

9. Lettering, gaya atau bentuk penulisan yang terdapat pada peta. Misalnya: huruf kapital tegak untuk judul peta, hal-hal yang berkaitan dengan air ditulis miring, dan sebagainya.

10. Garis tepi, yang digunakan untuk penempatan angka garis lintang dan garis bujur.


Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/12/2016

Peristiwa Agresi Militer Belanda II

Peristiwa Agresi Militer Belanda II - Setelah WTM Beel menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan persetujuan Renville pada tanggal 19 Desember 1948, segera atau bersamaan dengan pidato Beel tersebut, Belanda mulai melancarkan Agresi Militer II atau disebut pula dengan Operasi Gagak (Opertie Kraai). Agresi ini dipimpin oleh Jenderal Simon Hendrik Spoor.

Pemerintah Belanda masih tetap menganggap tindakannya ini sebagai Aksi Polisional, yaitu menangkap dan memberantas teroris atau penjahat yang mengganggu ketenteraman negara.

Untuk memulai serangannya, pada pagi hari pukul 05.45 WIB, Belanda membombardir Pangkalan Udara Maguwo (sekarang dinamakan Adisucipto) dan dihujani tembakan yang dilakukan oleh tidak kurang dari 14 pesawat tempur. Setelah lapangan terbang Maguwo lumpuh, mereka menerjunkan pasukan dan kemudian menyasar Yogyakarta, Ibu Kota Negara RI pada waktu itu.

Tepat jam 09.00 seluruh pasukan KST yang berjumlah 432 anggota sudah mendarat di Maguwo, kemudian pada pukul 11.00, seluruh kekuatan Grup Tempur M sebanyak 2.600 orang –termasuk dua batalyon, 1.900 orang, dari Brigade T- beserta persenjataan beratnya di bawah pimpinan Kolonel D.R.A. van Langen telah terkumpul di Maguwo dan mulai bergerak ke Yogyakarta. Serangan ini tidak hanya terjadi di Yogya tetapi juga pada semua wilayah RI di Jawa dan Sumatera.

Pada siang hari itu juga Ibu Kota Republik Indonesia jatuh, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muh. Hatta ditangkap. Penangkapan ini bisa terjadi karena presiden dan wakil presiden dan para pemimpin RI lainnya memuntuskan untuk tetap tinggal di ibu kota supaya tetap dapat berhubungan dengan KTN sebagai wakil PBB dan juga bertujuan untuk mendapatkan kemenangan diplomasi dari Belanda. Keputusan ini disepakati bersama pada sidang kabinet tanggal 19 Desember 1945 yang digelar oleh presiden dan wakil presiden sesaat setelah agresi militer Belanda II dilancarkan.

Namun sebelum penangkapan terjadi, Presiden dan Wakil Presiden RI, sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan oleh Dewan Siasat, yaitu basis pemerintahan sipil akan dibentuk di Sumatera, maka Presiden dan Wakil Presiden membuat surat kuasa yang ditujukan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi.

Presiden dan Wakil Presiden mengirim kawat kepada Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi, bahwa ia diangkat sementara membentuk satu kabinet dan mengambil alih Pemerintah Pusat. Pemerintahan Syafruddin ini kemudian dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Selain itu, untuk menjaga kemungkinan bahwa Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintahan di Sumatera, juga dibuat surat untuk Duta Besar RI untuk India, dr. Sudarsono, serta staf Kedutaan RI, L. N. Palar dan Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis yang sedang berada di New Delhi.

Empat Menteri yang ada di Jawa namun sedang berada di luar Yogyakarta sehingga tidak ikut tertangkap adalah Menteri Dalam Negeri, dr. Sukiman, Menteri Persediaan Makanan,Mr. I.J. Kasimo, Menteri Pembangunan dan Pemuda, Supeno, dan Menteri Kehakiman, Mr. Susanto. Mereka belum mengetahui mengenai Sidang Kabinet pada 19 Desember 1948, yang memutuskan pemberian mandat kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat di Bukittinggi, dan apabila ini tidak dapat dilaksanakan, agar dr. Sudarsono, Mr. Maramis dan L.N. Palar membentuk Exile Government of Republic Indonesia di New Delhi, India.

Pada 21 Desember 1948, keempat Menteri tersebut mengadakan rapat dan hasilnya disampaikan kepada seluruh Gubernur Militer I, II dan III, seluruh Gubernur sipil dan Residen di Jawa, bahwa Pemerintah Pusat diserahkan kepada 3 orang Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehakiman, Menteri Perhubungan.

Pada hari yang sama tepat pukul 08.00 Jenderal Sudirman mengeluarkan perintah kilat yang dibacakan melalui radio, segera setelah beliau mendengar berita penyerangan Belanda tersebut.

Tanggal 22 Desember 1948 sekitar pukul 07.00, atas perintah Kolonel D.R.A. Van Langen, para pemimpin RI yang tertangkap diasingkan ke tempat yang sebelumnya dirahasiakan menggunakan pesawat pembom B-25 Belanda. Para pemimpin yang diasingkan itu baru tahu kalau mereka diasingkan ke pulau Bangka setelah pesawat yang mengangkut mereka mendarat di Pelabuhan Udara Kampung Dul Pangkal Pinang (sekarang Bendara Depati Amir)

Rombongan Presiden Sukarno, Sutan Syahrir, dan Haji Agus Salim dibawa terus dan kemudian diasingkan di Brastagi dan Parapat. Sedangkan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, RS. Soejadarma (KASAU), Mr. Assaat (Ketua KNIP) dan Mr. AG. Pringgodigdo (Sekneg), diturunkan di pelabuhan udara Kampung Dul Pangkalpinang dan terus dibawa ke Bukit Menumbing Mentok dengan dikawal truk bermuatan tentara Belanda dan berada dalam pengawalan pasukan khusus Belanda, Corps Speciale Troepen.

Sementara itu Panglima Jenderal Sudirman menarik pasukan ke luar kota (Ambarawa) setelah Yogyakarta dikuasai oleh pasukan Belanda dan mulai menggunakan siasat perang gerilya. Dalam keadaan sakit beliau menempuh perjalanan bergrilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sepanjang 1000 km dalam waktu 8 bulan. Dan tiba kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Salah satu pokok isinya ialah : Tugas pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate (menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas.

Pasukan Siliwangi adalah salah satu pasukan yang ditugaskan melakukan wingate. Tanggal 19 Desember 1948 pasukan ini mulai bergerak dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini merupakan perjalanan yang sangat berat dan panjang, melalui sungai, gunung dan lembah menahan rasa lapar dan haus dan selalu dibayang-bayangi dengan serangan musuh. Ekspedisi bersejarah ini kemudian terkenal dengan sebutan Long March Siliwangi. Dalam perang gerilya ini kota Jogja sempat direbut kembali oleh Tentara RI.

Untuk merespon agresi militer Belanda II ini, PBB akhirnya membentuk United Nations commission for Indonesia (UNCI), atas desakan UNCI diselenggarakan perjanjian Roem-Royen yang dimulai pada pertengahan April 1949. Namun, perundingan mengalami kesulitan titik temu antara kedua belah pihak, sehingga baru berhasil disepakati pada awal Mei 1949. Untuk lebih lengkapnya tentang perjanjian tersebut, silahkan baca : Persetujuan Roem-Royen.

Ada beberapa point penting yang berhasil disepakati dalam perundingan ini yaitu Belanda setuju memulihkan pemerintah RI di Yogyakarta dan Menyetujui RI sebagai negara bagian dalam Negara Indonesia Serikat. Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka pada tanggal 6 Juni 1945, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta dan pemimpin lainnya kembali ke Yogyakarta; dan mulai tanggal 24 - 29 Juni 1949 semua pasukan Belanda ditarik dari Yogyakarta dan setelah itu TNI masuk kota Yogyakarta. Demikianlah akhir dari peristiwa agresi militer Belanda II tersebut. (Dari berbagai sumber)

Silahkan baca juga: Peristiwa Agresi Militer Belanda Pertama.
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 1/12/2016